Sst, Jangan Berisik!

Sst, Jangan Berisik!

Nurhayati Pujiastuti3 min read
0 komentar

Berisik dengan hidup sendiri? Boleh-boleh saja. Namun, berisik dengan hidup orang lain?

Pernahkah kita merasakan suara angin yang bertiup sepoi-sepoi? Angin yang bertiup dan  hampir tidak terdengar suaranya. Apa yang kita rasakan ketika angin itu bertiup? Kenangan manis, kenyamanan, tenteram, damai, dan hal manis lainnya. Duduk sendiri memandang langit, ditemani mendung, secangkir kopi, menjadi pelengkap kehadiran angin tersebut.

            Lalu bagaimana ketika yang hadir angin yang ribut? Bahkan puting beliung, angin topan, dan sejenisnya? Bukan hanya suara  berisiknya yang mengganggu. Namun, angin itu bisa menghancurkan semuanya, bahkan harapan seseorang.

            Berisik. Iya, berisik. Kita ini sering sekali berisik terhadap hidup orang lain. Berisik seperti angin ribut. Berisik ketika seorang memiliki standar tidak seperti standar kita. Padahal, hidup bisa dibuat sederhana, bahwa Allah menciptakan makhluk-NYA berbeda. Jika kita bisa memberi pengaruh positif pada orang tersebut, bersyukurlah. Jika kita tidak bisa memberi pengaruh dan justru takut terpengaruh, cukup menjauh dan jangan berisik.

            Berisik dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang ribut, ramai, hingar bingar. Tidak membuat nyaman di hati.

            Berisik dengan keputusan yang sudah ditetapkan Allah, terjadi pada kaum Bani Israil ketika diminta mencari seekor sapi betina, seperti diceritakan dalam beberapa ayat pada QS Al Baqarah. Mereka berisik menghujani dengan pertanyaan kepada Nabi Musa, sehingga mereka kesulitan mencari sapi betina tersebut.

            Berisiknya komentar orang lain, bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan dialami oleh perempuan mulia Maryam. Dituduh berzinah oleh kaumnya. Padahal ia perempuan yang terjaga ibadanya. Bahkan berisik dengan tuduhan berselingkuh, juga didapatkan oleh Aisyah istri Rasulullah.

            Kenapa seseorang menjadi berisik dengan hidup orang lain? Ada istilah bernama savior complex.  Savior complex merupakan perilaku yang membuat seseorang cenderung, untuk selalu menolong orang lain dan ini dilakukan secara berlebihan.

            Karakter yang baik tentu saja. Namun, segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan menjadi tidak baik.  Empatinya berlebihan, menolong orang secara berlebihan, sehingga tidak disadari seseorang savior complex memaksa mengubah kehidupan seseorang seperti standar yang dimilikinya.

            Berisik, terkadang juga datang dari seseorang yang memiliki rasa ingin tahu berlebih terhadap orang lain. Banyak hal yang menjadi latar belakangnya. Bisa latar budaya dengan budaya kolektif.  Menurut  Markus dan Kitayama, 1991, dalam budaya Timur, kolektivitas seseorang individu adalah memandang dirinya terhubung dengan orang lain. Hubungan yang erat ini menjadikan mereka tanpa sadar, merasa berhak untuk mengetahui apa yang dilakukan orang lain.

            Peduli berbeda dengan berisik. Jika kita peduli dengan kehidupan orang lain, ingin orang itu menjadi pribadi lebih baik, ada banyak contoh yang Rasulullah ajarkan. Adab dan akhlak beliau membuat seorang Umar ibn Khattab, atas izin Allah, menjadi sahabat terdepan membela beliau. Bahkan Salman al Farisi jauh-jauh dari Persia, untuk mencari Rasulullah.

            Sst, jangan berisik!

Jika kita tidak ingin hidup kita dikomentari orang lain dari berbagai sisi dengan berbagai standar, mulailah dari diri kita sendiri. Jangan berisik dengan kehidupan orang lain. Mulailah berhenti menjadi angin ribut!

           

Rujukan:

https://rumaysho.com/22718-kisah-al-baqarah-sapi-betina-di-zaman-nabi-musa.html

 https://www.alodokter.com/mengenali-perilaku-savior-complex-dan-cara-mengatasinya

 https://unair.ac.id/peran-budaya-kolektif-dan-individualis-terhadap-kesepian/

 

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!