Hidup saat ini jauh lebih praktis dan serba ada, tetapi sering kali rasa tenang justru semakin sulit didapat. Ada sebuah kalimat abadi dalam Al-Qur'an yang terasa sangat relevan hari ini:
“...Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa di setiap zaman, tantangan terbesar manusia bukan hanya tentang bertahan hidup, melainkan tentang menjaga hati agar tetap kena" dengan rasa syukur. Di era modern yang serba cepat, konsep shukr atau syukur seringkali dianggap sebagai nasihat kuno yang tidak lagi realistis. Benarkah demikian? Mari kita bedah lebih dalam.
Bahaya di Balik Kelalaian Bersyukur
Al-Qur'an memberikan peringatan keras melalui perumpamaan sebuah negeri yang makmur namun penduduknya enggan bersyukur. Modernitas yang kita banggakan hari ini bisa menjadi bumerang jika kita melupakan Sang Pemberi Nikmat. Allah berfirman:
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Krisis mental seperti kecemasan dan ketakutan akan masa depan yang dialami manusia modern saat ini, sangat mungkin merupakan refleksi dari ayat di atas.
Paradoks Dunia Modern: Standar Hidup Naik, Kebahagiaan Turun
Seorang psikolog bernama Tod Sloan dalam bukunya Damaged Life, menyoroti sebuah ironi besar. Manusia modern mati-matian mengejar standar hidup materi yang tinggi, namun justru membayar harga psikologis yang sangat mahal.
Laju hidup yang terlalu cepat, memudarnya keyakinan, dan ekspektasi yang tidak pernah terpuaskan membuat kita sering merasa hampa. Kita terjebak dalam pengejaran citra dan kepuasan instan, tetapi semakin terputus dari komunikasi yang bermakna dengan sesama, apalagi dengan Sang Pencipta.
Jebakan "Generation Me"
Penelitian dari Dr. Jean M. Twenge menunjukkan tren yang menarik sekaligus mengkhawatirkan pada generasi Milenial dan Gen-Z. Kita hidup di era di mana nilai-nilai bergeser ke arah ekstrinsik; seperti kekayaan, ketenaran, dan citra diri serta menjauh dari nilai intrinsik seperti komunitas dan empati.
Ada peningkatan angka narsisme yang signifikan. Masalahnya, narsisme melahirkan rasa entitlement (merasa berhak mendapatkan segalanya tanpa usaha). Ketika seseorang merasa "berhak", ia sulit untuk bersyukur. Baginya, segala nikmat adalah haknya, bukan pemberian. Inilah yang membuat rasa iri dan ketidakpuasan menjadi penyakit mental yang umum di zaman digital.
Syukur: Bukan Sekadar Ucapan, Tapi Benteng Hati
Dalam Islam, syukur atau shukr adalah saudara kembar dari iman. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ketidaksyukuran seringkali muncul dalam bentuk:
Keluhan yang tidak ada habisnya.
Keserakahan dan rasa haus akan validasi.
Keputusasaan saat keinginan tidak terpenuhi.
Ibn al-Qayyim pernah menjelaskan bahwa semua sifat ini adalah gejala keterikatan hati pada selain Allah. Saat kita menggantungkan kebahagiaan pada harta, jabatan, atau pujian manusia, kita sebenarnya sedang membangun rumah di atas pasir. Allah akan membiarkan kita dijajah oleh apa pun yang kita cintai secara berlebihan hingga akhirnya hal itu mengkhianati kita.
Menemukan Kembali Makna "Cukup"
Bagaimana cara kita "sembuh" dari penyakit modern ini? Jawabannya adalah kembali memahami hakikat dunia. Al-Qur'an memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa dunia hanyalah panggung sementara:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu… Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Islam tidak melarang kita sukses, namun Islam mengajarkan kita untuk tidak "meletakkan dunia di dalam hati". Mengapa? Agar kita tetap tegar saat kehilangan dan tetap rendah hati saat meraih kemenangan. Allah berfirman:
“...Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)
Samudra dan Setetes Air
Rasulullah ﷺ memberikan perspektif yang sangat kuat tentang perbandingan dunia dan akhirat. Beliau bersabda bahwa perbandingan keduanya seperti mencelupkan jari ke samudra luas. Air yang tersisa di ujung jari saat diangkat itulah dunia, dan samudra luas itulah akhirat.
Bersyukur bukan berarti berhenti mengejar prestasi atau kesuksesan duniawi. Bersyukur adalah menyadari bahwa apa pun yang kita genggam hari ini hanyalah titipan sementara, "tempat berteduh" yang suatu saat akan kita tinggalkan.
Jadi, sudahkah kita berhenti sejenak hari ini, menarik napas dalam-dalam, dan benar-benar berterima kasih atas detak jantung yang masih Allah berikan? Karena di dunia yang selalu menuntut lebih, rasa cukup adalah kekayaan yang sesungguhnya.
Daftar Pustaka & Referensi
Berikut adalah sumber-sumber yang dikutip dan menjadi landasan artikel di atas:
Al-Qur'anul Karim: Surah Saba’ (34:13), Surah An-Nahl (16:112), Surah Al-Hadid (57:20-23).
Al-Ghazali, Imam. The Alchemy of Happiness (Kimiya-yi Sa'adat). (Metafora tentang unta dan musafir).
Ibn al-Qayyim al-Jawziyya. Madarij al-Salikin. (Pembahasan mengenai keterikatan hati dan penyakit hati).
Muslim, Imam. Sahih Muslim. Hadis No. 2858 (Perumpamaan dunia dan akhirat seperti jari di lautan).
Sloan, Tod. (1996). Damaged Life: The Crisis of the Modern Psyche. Routledge.
Twenge, Jean M. (2013). The Evidence for Generation Me and Against Generation We. Emerging Adulthood.
Twenge, Jean M. (2006). Generation Me: Why Today's Young Americans Are More Confident, Assertive, Entitled—and More Miserable Than Ever Before. Free Press.

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!