Semua bermula pada suatu pagi, ketika angin di luar sedang tenang, burung-burung di kandang saling bersahutan, matahari perlahan naik, dan anak-anak kecil berlarian mengejar tukang roti hangat yang lewat di gang mereka.
“Prang!”
Suara itu terdengar. Suara piring yang jatuh ke lantai. Diikuti dengan suara lain yang seperti berlomba terbang. Suara berat Ayah dan isak tangis Ibu. Prang! Prang! Prang!
Setelah itu sepi. Agak lama. Sampai terdengar suara gesekan sapu dengan lantai. Lalu serpihan piring pecah itu dimasukkan ke tempatnya, Dibungkus rapi, diikat dengan kertas berkali-kali. Ibu bilang, agar tidak ada orang atau hewan yang terluka terkena serpihannya. Ibu mungkin tidak menyadari, Arda memang tidak pernah tergores pecahan piring tersebut. Tapi ada banyak goresan di hati yang setiap saat bertambah. Tidak pernah berkurang.
Pernah, Arda diam-diam membuka bekas pecahan piring tersebut. Lalu menempelnya.
“Piring di rumah kita bisa habis,” kata Bim kepadanya.
“Kamu tahu ada lem yang kuat yang membuat piring ini bisa bersatu lagi. Aku sudah hitung uang jajanku,” Arda menjawab.
Arda ingat, kalimat itu ia ucapkan pada Bim, ketika mereka berdua yang sedang menonton televisi dikejutkan dengan suara piring-piring yang pecah. Duduk mereka langsung merapat. Bahkan air matanya keluar.
Bim lalu berbisik agar Arda menutup telinganya rapat-rapat, atau membesarkan suara televisi. Kata Bim, pengalaman pertama seperti ini memang sungguh menyeramkan.
Arda memang mengikuti apa yang kakaknya sarankan. Lalu setelahnya ada suara langkah kaki yang mendekat, dan semakin mendekat. Dan… Prang! Satu piring hancur berantakan di depan mereka. Wajah Ibu terlihat berbeda. Ibu Nampak menyeramkan di mata Arda pada saat itu.
“Kalian berisik!” teriak Ibu.
Lalu senandung piring terbang kedua menjadi hal yang Arda maklumi. Bahkan ia tahu ke mana harus pergi. Naik ke atas pohon jambu biji, dan memandangi burung-burung gereja yang terbang. Atau semut yang menyatap remahan roti darinya.
Tahun-tahun berlalu.
Sampai akhirnya, piring-piring terbang menjadi sesuatu yang biasa. Arda kadang kaget, tapi lalu biasa. Bahkan ia mulai sering menggoyangkan kepala dan kakinya, menjadikan suara hentakan piring ke lantai, menjadi irama di dalam kepalanya.
Arda pernah mencoba menjatuhkan piring kecil di kamarnya. Prang! Ada rasa puas di hatinya. Senandung piring pecah itu ternyata membuat candu. Apa seperti itu yang Ayah dan Ibu rasakan?
Bim, kakaknya, entah menjauh ke mana. Sepertinya Bim mulai sibuk dengan dunianya. Bim menjadi murah marah pada Arda, untuk suatu hal yang biasa. Bahkan mulai membanting pintu, mengomel pada Ibu, dan membentak Ayah. Semua terasa berbeda.
Bim menjadi sosok yang tak jelas, bahkan tak bisa melindungi Arda lagi.
Jika Ayah dan Ibu kembali bertengkar untuk hal kecil saja, Arda masuk ke dalam kamar. Ia memandangi piring-piring kecil yang mulai ia koleksi.
**
“Prang! Prang! Prang!”
Rumah menjadi sepi sejak Ayah tidak ada lagi. Ibu sudah lebih tenang, meski kadang menangis sendiri. Atau satu dua kali terdengar, menjatuhkan piring gelas, hingga makanan dan minumannya berantakan. Mungkin Ibu terbiasa dengan suara piring yang terjatuh ke lantai dan Ibu rindu mendengarnya.
Namun, sekarang ada suara yang lain yang sekarang menggantikannya riuhnya suara piring terbang.
“Aku tidak suka seperti ini terus! Ini gara-gara Ibu salah menciptakan rumah tangga seperti ini!”
Itu suara Bim, kakaknya. Laki-laki yang menjadi mudah marah, bahkan mulai main tangan. Beberapa kali ia dipecat dari pekerjaannya karena tidak bisa kerja sama.
“Prang!” Satu piring jatuh tersenggol Arda. Tidak sengaja. Ada kue buatannya di dalam piring tersebut.
“Prang!” Piring yang ada di lantai, Arda ambil. Lalu, Prang. Rasanya ia mendengar suara merdu. Ada yang tertahan di hati yang bisa dilampiaskan. Piring besar yang terjatuh di lantai dan dilihat oleh orang lain, ternyata membuat hati Arda puas.
“Prang! Prang! Prang!” Arda tersenyum sendiri.
Di dekatnya, Bim dan ibunya memandanginya dengan tatapan mata seperti tak percaya.
Senandung dari piring-piring yang jatuh ke lantai itu, terus berbunyi di kepala Arda. Dan ia mulai menikmatinya.
**
Rujukan:
Junierissa Marpaung , Kiki Dian Novitasari (2017). STUDI DESKRIPTIF DAMPAK ORANG TUA YANG BERKONFLIK BAGI ANAK. Jurnal Cahaya Pendidikan.
https://ucmfc.ciputra.ac.id/dampak-yang-ditimbulkan-ketika-orang-tua-bertengkar-di-depan-anak/

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!