Semangkuk I Love You

Semangkuk I Love You

Nurhayati Pujiastuti3 min read
0 komentar

Kalimat sederhana yang sulit diucapkan.

Sebuah mangkuk bertuliskan kata I love you. Zia menemukan mangkuk itu, ketika ia sedang membereskan lemari di dapur orangtuanya.  Mangkuk itu tersimpan di dalam kotak, di lemari bawah, berkumpul dengan beberapa panci, wadah agar-agar, dan beberapa peralatan lain yang tidak terpakai.

            Kotak itu mencuri perhatiannya. Dari sekian banyak barang yang tidak terawat, ada sebuah kotak yang masih rapi. Tidak, tidak mungkin jika ibu membeli barang lalu menyimpannya begitu saja, sebelum menggunakan.

            Satu mangkuk ukuran biasa, bertuliskan I love you. Zia membayangkan aroma bubur hangat disajikan di mangkuk tersebut. Ia tersenyum sendiri. Ah, tidak, itu bukan kenangan yang ia simpan. Itu efek terlalu banyak kisah romantis yang sempat terlihat di beranda media sosialnya.

            Zia kembali membereskan barang-barang yang sudah ia keluarkan dari dalam lemari. Barang-barang usang, sudah seharusnya dibuang. Kenangan tidak akan bisa kembali. Namun, mangkuk itu akan ia bawa kepada Ibu.

            Ibu sedang di kebun, meneguk teh bunga ketul dan madu yang Zia buatkan tadi. Tiga bulan yang lalu, hati ibu hacur berkeping. Hati Zia juga. Bapak berpulang mendadak, ketika sedang tidur. Tanpa tanda sakit sebelumnya.  Rasanya kenyataan begitu kejam pada mereka.

            Zia dan Ibu menyangkal menolak kenyataan tersebut. Mereka tidak percaya. Marah, rasanya tidak terima jika takdir itu menimpa mereka.  Tawar-menawar dengan menjadikan semua dengan kalimat, andai saja, andai saja, dan andai saja. Ia nyaris depresi seolah semua jalan buntu. kalau tidak memikirkan ada Ibu yang harus diurusnya. Hingga akhirnya, sebulan yang lalu, ia mulai berdamai dengan kenyataan. Bapak sudah pergi, kenangan baik tersimpan untuk mereka.

            Ibu pun mulai kembali aktif berkumpul bersama teman-temannya. Kembali merangkai bunga, kembali melukis. Barang-barang milik Bapak, mulai Zia dan Ibu benahi bersama. Mana yang masih disimpan, dan mana yang harus direlakan diberikan pada orang lain.

            “Sebuah mangkuk, bertuliskan I love you,” Zia mendekat pada Ibu.

            Ibu menoleh, meneguk teh bunga ketul dengan tenang. “Kamu menemukannya?”

            “Milik Ibu? Belum pernah dipakai?” Zia penasaran.

            Ibu mengangguk. “Belum pernah dipakai, baru rencana dipakai. Ramadhan ini, rencanya akan Ibu pakai.”

            Lalu, mulut Ibu berucap. Tentang sebuah mangkuk yang Ibu beli, yang akan Ibu isi makanan kesukaan Bapak. Akan Ibu suguhkan untuk sahur Bapak, agar Bapak menjalani Ramadhan dengan lebih gembira.

            Zia diam. Ia tidak ingin bicara, tapi tarikan napasnya yang diembuskan pelan, terdengar seperti tangisan tertahan.

            “Rencana, Zia. Kita sering punya rencana , tapi menunda untuk melakukannya. Karena kita berpikir masih punya banyak waktu.”

            Zia menunduk. Rencana manusia. Takdir Allah. Semua manusia akan menuju satu titik bernama ajal.

Hening. Sampai Ibu bersuara dengan menepuk bahu Zia.

            “Mangkuk itu untukmu saja. Besok, lekas isi mangkuk itu dengan makanan kesukaan suami dan anakmu, pada sahur pertama mereka. Jika kamu tidak bisa mengucapkan kalimat itu, cukup kamu suguhkan dengan senyum dan tunjukkan kalimat tersebut.”

            Zia langsung memeluk Ibu. “I love you, Ibu,” bisiknya. Ini pertama kali ia mengucapkan hal itu pada ibunya. Rasanya, ia ingin mengulang ucapan itu ribuan kali.



Catatan:

Fase berduka menurut  Elisabeth Kubler-Ross memiliki lima tahapan:

1. penolakan (denial)

2. kemarahan (anger)

3. tawar-menawar (bargaining)

4. depresi (depression)

5. penerimaan (acceptance)

               

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!