Sebutir Cilok Hangat

Sebutir Cilok Hangat

Nurhayati Pujiastuti3 min read
0 komentar

Ada kenangan yang bertaburan pada setiap butir cilok hangat. Apakah itu kenangan manis?

Hanya cilok. Cilok apa saja, tidak perlu cilok dari mall, tidak perlu yang dijual di market place, tidak perlu sambal dengan tekstur tertentu. Hanya cilok. Hangat, dan sedikit pedas. Itu saja permintaan Rima setiap kali mereka bersiap pergi.

            Kebiasaan yang untuk orang lain mungkin biasa saja. Makanan kesukaan yang harus ada untuk menemani perjalanan. Mungkin sensasi dari semua kenangan akan membuat perjalanan jauh jadi menyenangkan.

            “Kamu tahu, kacang mete lebih enak dari cilok,” ujar Tisa ketika mobil mereka sudah di jalan. Tisa menyodorkan kacang mete di toples yang ia bawa. “Sekali tanpa cilok, hidupmu akan aman-aman saja. Sabuk pengaman, sudah berdoa, Bismillah. Siap?”
            Ada tarikan napas yang terdengar. Tujuan mereka jelas dan tidak jelas. Jelasnya, sebagai sepupu mereka senang menghabiskan waktu ketika libur. Tidak jelasnya, tempat liburan itu tidak terencana. Kadang mengikuti naluri  mereka yang senang dengan desis angin, suara burung, juga gemericik air sungai.

            “Di pinggir jalan tol ada penjual cilok?” tanya Rima.

            “Kacang mete, bayangkan ini adalah sambal cilok terenak yang pernah kamu coba.”

            “Bukan masalah kacang metenya. Ini masalah…”

            “Ini masalah kebiasaan makanmu yang menyebalkan. Cilok, cilok, dan cilok.”

            Tak ada percakapan. Jalan tol sudah mereka lalui, belokan sudah mereka lewati, titik yang mereka tuju bisa ada di mana saja.

            “Tukang cilok,” Rima menunjuk ke halaman masjid di pinggir jalan. Sebuah gunung gagah terlihat di depan mereka. “Pleaseee.”

            Tisa berhenti.

            “Dadaku sesak kalau dalam perjalanan tanpa cilok. Rasanya semua hariku buruk.”

            Kalimat itu baru Tisa dengar. Ia menemani Rima mendekati pedagang cilok.

            Lima butir cilok di wadah, diberi saos, kecap, juga sambal kacang.

            “Dulu Mama selalu bilang, aku harus makan cilok buatan Mama, kalau tidak Mama akan pergi meninggalkanku selamanya. Aku tidak mau Mama pergi.”

            Risa kaget.

            “Kamu tahu, apa yang dulu terjadi?”
            Risa mengangguk. Ia paham apa yang terjadi. Sebagai single parent, ibunya Rima membuat cilok untuk dijual. Cilok-cilok itu juga akan menemani Rima sarapan, makan siang, hingga makan malam. Jika ada makanan yang lain, itu terjadi setelah kehidupan membaik. Tapi tetap ada cilok di meja makan mereka.

            Cilok hangat satu per satu masuk ke mulut Rima. Tangannya menekan telepon genggamnya.

            “Hai, Ma. Aku sama Tisa, nih. Mama sehat-sehat, kan?” Rima tertawa menunjukkan satu cilok yang masih tersisa. “Mama jangan pernah pergi meninggalkan aku, ya. Aku akan terus makan cilok untuk Mama.”

            Tisa sempat melihat wajah di telepon genggam di seberang sana, terlihat muram. Seperti dipenuhi rasa bersalah.

            Tisa menggandeng sepupunya. “Perjalanan kita masih jauh, jangan cari tukang cilok lagi. Ada kacang mete dan biskuit di mobil.”

            “Siap,” Rima tertawa.

**

Rujukan:

Catastrophizing merupakan fenomena yang terjadi, ketika seseorang memiliki pikiran irasional dan mempercayai bahwa sesuatu yang hendak terjadi adalah hal yang buruk. Pemikiran tersebut muncul bahkan sebelum ia mengalaminya. Hal ini terjadi karena adanya distorsi kognitif berupa pemikiran negatif yang sifatnya berulang, abstrak dan tidak rasional.

https://pijarpsikologi.org/blog/catastrophizing-kegagalan-berpikir-secara-logis-dan-cenderung-melebih-lebihkan-pemikiran-negatif

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!