Prasangka Buruk Meretakkan Hati

Prasangka Buruk Meretakkan Hati

Nurhayati Pujiastuti4 min read
0 komentar

Hati yang retak, patah, bukan hanya karena orang yang kita cintai pergi. Prasangka buruk bisa menjadi salah satu penyebabnya.

  Sebut saja ia Titin. Seorang wanita yang beranjak dewasa. Manis sikapnya, semanis wajahnya. Ia anak tengah dari lima bersaudara. Jarang mengeluh, semua yang dilakukannya terlihat hati-hati.

            Namun, beberapa minggu belakangan ini, wajahnya selalu murung. Suatu sore ketika hujan turun,  ia datang. Mata sendunya berubah ceria, ketika kusediakan minuman kesukaannya, teh tubruk sedikit manis dengan potongan daun jeruk purut. Setelah menikmati tehnya, ia berkata,” Aku butuh kekuatan. Mereka selalu membanding-bandingkan,” suaranya lirih terdengar.

            Sebulan yang lalu, Titin berbagi cerita tentang banyak hal. Kakak tertuanya yang selalu dibanggakan kedua orangtuanya. Adik-adiknya yang sibuk dengan prestasi. Sedangkan Titin merasa, usaha jualan online yang baru dirintisnya,  dianggap tidak berarti. Hatinya retak.

"Apakah prasangka buruk itu tidak bisa pergi dari hidupku?" ujarnya seperti bicara pada diri sendiri.

            Ah, bernama prasangka buruk. Mudah diucapkan, tapi bisa meretakkan sebuah hati. Bahkan bisa membuat hati itu, seperti berada dalam lingkaran badai yang membuatnya sulit keluar.

            Sebuah kalimat sederhana yang dampaknya bisa menjatuhkan kepercayaan diri seseorang.  Banyak dari kita, tumbuh dengan prasangka atau stigma negatif orang lain. Banyak dari kita lebih senang memberi label buruk di awal pertemuan, dibandingkan memberi dukungan positif. Kamu bodoh, kamu tidak bisa, kamu tidak berguna adalah kata-kata yang mungkin terasa biasa pada suatu lingkungan tertentu, tapi berdampak luar biasa pada mental seseorang.

            Prasangka dalam bahasa Indonesia berarti pendapat yang kurang baik tentang seseorang atau kelompok. Watson (1984) menyatakan, bahwa prasangka adalah sikap negatif yang kaku, alias tidak toleran terhadap sebuah kelompok terntentu.

            Menurut Spencer & Lynch dalam jurnalnya yang berjudul Self image Resilience and Dissonance menulis, bahwa orang menggemari prasangka karena dengan prasangka itu seseorang akan meningkatkan citra diri mereka di hadapan orang lain.

            Hujan masih turun ketika Titin menuntaskan teh  tubruk daun jeruk purutnya. “Kamu tahu, apa yang seharusnya kulakukan?” tanyanya. Ada air mata yang terlihat ditahan di kedua sudut matanya.

Titin butuh bantuan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendampingi pribadi seperti Titin.  Beberapa hal ini bisa kita lakukan:

1. Mengenali Diri Sendiri

    Ajaklah ia untuk mengenali diri sendiri. Memahami bahwa Allah itu sungguh Maha Detil dalam menciptakan makhluk-NYA. Manusia yang terlahir dari rahim yang sama, ternyata memiliki potensi berbeda. Kakak beradik diasuh dan tinggal  dengan orangtua yang sama, bisa memiliki karakter berbeda. Dalam QS Al Isra pada ayat 84, Allah sudah menyebutkan.

            Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaanya masing-masing.”Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

        Pembawaan yang dimaksud dari beberapa kajian tafsir, diartikan sebagai bakat juga potensi. Mengenali bakat dan potensi yang Allah berikan, akan membuat tumbuh rasa percaya diri, sehingga rasa percaya diri itu bisa membuat seseorang tidak begitu terpuruk ketika orang lain memiliki prasangka buruk padanya.

2. Jadilah Sahabat untuk Diri Sendiri

            Penulis Sydney J Harris menyebutkan bahwa “Jika Anda tidak merasa nyaman dengan diri sendiri, Anda tidak akan merasa nyaman dengan orang lain.

            Mengenali diri sendiri, bukan hanya sekadar mengenali warna kesukaan, bunga favorit, atau buku bacaan yang digemari. Menjadi sahabat untuk diri sendiri, berarti memahami dengan baik seluk-beluk perasaan kita. Apa yang harus kita lakukan ketika sedang emosi, sedang sedih, bahkan ketika sedang marah. Bagaimana kita meregulasi emosi tersebut.

              Seorang seperti Titin, butuh teman yang jujur mendampingi, hingga bisa membuatnya memahami diri sendiri, mencintai lebih dan kurangnya,  dan pada akhirnya bersahabat dengan dirinya sendiri.

3. Kenalkan Prinsip Ini

Jhon C Maxwell dalam bukunya Winning with People memaparkan teori tentang diri. Beberapa prinsip ini bisa kita gunakan:

a. Prinsip Lensa , siapa diri kita menentukan bagaimana kita memandang orang lain

b. Prinsip Cermin, orang yang pertama yang harus diperiksa adalah diri kita.

c. Prinsip Rasa Sakit, orang yang terluka melukai orang lain dan mudah terluka oleh orang lain.

d. Prinsip Elevator, kita bisa mengangkat dan menjatuhkan orang lain dalam hubungan kita.

  Wajah muram Titin berubah ceria. Ia meneguk teh daun jeruknya hingga tuntas, lalu tersenyum.

            “Aku ingat sekarang. Sebuah kalimat dari hadis bahwa Allah sesuai prasangka hamba-NYA saja. Aku harus mulai berprasangka baik pada Allah.”

            Hujan mulai reda menyisakan gerimis. Titin pamit pulang.

            “Terima kasih. Aku akan pulang dan mengenali diri sendiri. Jangan bosan jika aku datang kembali! Doakan aku berhasil!”

  Ada banyak Titin yang lain. Jika kalian bertemu dengan seseorang seperti ini, belajarlah untuk menebarkan prasangka baik, agar tidak ada hati yang retak dan jiwa dihantam badai karena terluka.

 

Rujukan

 Maxwell, Jhon C (2007). Winning with People. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Indonesia.

 Saifuddin, Ahmad (2019). Kenapa Kita Gemar Berprasangka.

          https://islami.co/kajian-psikologis-ini-menjelaskan-kenapa-kita-gemar-berprasangka/

 Minoki, Andika (2024). Berperasangka Baik kepada Allah.

           https://muslim.or.id/95196-berperasangka-baik-kepada-allah.html

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!