Dua pekan berlalu sejak bencana banjir bandang melanda Sumatera. Namun luka yang tercipta terasa lebih dalam dari sekadar genangan air dan tumpukan kayu gelondongan. (Artikel ditulis 12 Des 2025)
Sudah 2 pekan saudara-saudara kita di Sumatera menghadapi musibah yang oleh banyak pihak disebut seperti "tsunami kedua". Bedanya mendasar: tsunami 2004 adalah murni bencana alam akibat gempa bumi yang tak terduga. Kali ini, siklon Senyar memang membawa hujan lebat berhari-hari, namun dampak dahsyatnya diperbesar oleh deforestasi masif yang telah menggerogoti pulau tersebut selama bertahun-tahun.
Hasilnya? Luluh lantaknya hampir semua aspek kehidupan di tiga provinsi—terutama di wilayah pedesaan yang paling rentan. Rumah-rumah hancur, infrastruktur porak-poranda, mata pencaharian musnah, dan yang paling menyakitkan: nyawa-nyawa melayang.
Diamnya Kawan Ceritamu: Bukan Ketiadaan, Tapi Kekecewaan
Mungkin sebagian dari kalian bertanya: "Dimana Kawan Ceritamu saat ini? Kenapa tidak ada posting belasungkawa atau bahkan sekadar Instagram story turut berduka?"
Kami ada.
Kami menyaksikan.
Tapi kami sedih, marah, dan sangat kecewa.
Bukan kepada korban bencana—mereka adalah saudara-saudara kita yang tengah berjuang. Kekecewaan kami tertuju pada sistem yang seharusnya melindungi mereka, namun justru terlihat lamban, bahkan—harus kami katakan—tidak hadir sebagaimana seharusnya.
Koordinasi yang Hilang, Harapan yang Memudar
Bandingkan dengan tsunami 2004. Dalam hitungan hari, dunia bergerak. Koordinasi terpusat dibentuk, status bencana nasional dideklarasikan, bantuan internasional mengalir dengan jalur yang jelas. Ada kepastian. Ada arah.
Kini?
Tidak ada koordinasi terpusat yang responsif seperti dulu. Status bencana nasional—yang menurut kami sangat krusial untuk membuka akses bantuan dan mempercepat penanganan—tidak kunjung ditetapkan. Bencana telah memasuki fase kedua: penyakit menular, trauma psikologis, masalah sanitasi, dan konflik sosial pasca-bencana mulai mengintai para pengungsi.
Yang lebih menyakitkan?
Para relawan dan donatur yang dengan tulus ingin membantu justru dipersulit oleh birokrasi yang kaku. Influencer yang berhasil menggerakkan empati publik dan mengumpulkan puluhan miliar rupiah untuk korban bencana malah dijulidi dan dipertanyakan niatnya.
Entah negara ini mau dibawa kemana.
Pertanyaan yang Menggantung di Udara
Sebagai platform yang fokus pada kesehatan mental dan dukungan emosional berbasis nilai-nilai Islam, kami di Kawan Ceritamu tidak bisa pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kami tidak akan membagikan poster generik "turut berduka" hanya untuk terlihat peduli di media sosial.
Justru, kami ingin mengajak kalian untuk duduk sejenak dan merenungkan:
Apa yang sebenarnya terjadi pada pemerintah kita ini?
Mengapa respon pemerintah terhadap bencana justru mundur dibanding 20 tahun lalu? Apakah benar ada kepentingan besar yang disembunyikan? Mengapa bantuan yang tulus harus melewati begitu banyak penghalang?
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dalam situasi seperti ini, wajar jika kita merasa tidak berdaya. Tapi Islam mengajarkan kita bahwa tidak ada yang benar-benar tidak berdaya ketika kita masih punya hubungan dengan Allah.
1. Doa yang Tulus
Doakan agar para korban diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini. Doakan agar mereka mendapat pahala terbaik dari Allah atas ketabahan mereka. Doakan juga agar sistem yang melindungi rakyat dapat diperbaiki.
"Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
2. Tetap Peduli, dengan Cara yang Benar
Jika kamu ingin menyalurkan donasi, lakukan melalui jalur yang terpercaya dan transparan. Jangan biarkan birokrasi menghalangi niat baikmu, tapi pastikan bantuanmu sampai ke tangan yang tepat.
3. Jaga Kesehatan Mental Kita Sendiri
Jika kamu merasa overwhelmed, ketakutan, atau bahkan marah dengan situasi ini—kamu tidak sendiri. Perasaan-perasaan ini sangat valid. Menyaksikan ketidakadilan, penderitaan saudara kita, dan lambannya respon dapat memicu vicarious trauma atau trauma tidak langsung.
Ini adalah ruang yang kami ciptakan.
Di kawanceritamu.com, kami ada untuk mendengar semua ceritamu. Kemarahanmu. Kesedihanmu. Ketakutanmu. Bahkan ketidakberdayaanmu. Kamu tidak harus melaluinya sendirian.
Menutup dengan Harapan yang Membumi
Kami tidak akan menutup tulisan ini dengan klise "everything will be okay". Karena sejujurnya, kami tidak tahu. Yang kami tahu: kita memiliki tanggungjawab sebagai hamba Allah untuk terus peduli, terus bersuara, dan terus berbuat—meski sistemnya tidak sempurna.
Bencana ini bukan hanya ujian bagi korban langsung, tapi juga ujian bagi kita semua: ujian empati, ujian solidaritas, ujian keimanan kita sebagai umat.
Mari kita hadapi bersama.
Butuh ruang aman untuk berbagi perasaanmu tentang situasi ini atau hal-hal lain yang membebani?
👉 Daftar sekarang di kawanceritamu.com

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!