Aku tak tahu bagaimana bentuk masa depanku.
Entah kenapa, belakangan ini Zee merasa ada sesuatu yang semakin mengganggu pikirannya. Sebuah benih, yang semakin membesar dan menguasai pikiran juga tubuhnya. Lalu membuat ia melihat sesuatu menjadi menakutkan. Bahkan ia merasa bahwa matahari, angin, juga debu, seperti tidak menginginkan kehadirannya.
“Hai, aku Zee.”
Sering ia berharap kalimat itu muncul dari mulutnya ketika melewati teman-teman sekolahnya. Namun, kenyataannya yang ia lakukan hanya berjalan cepat, menunduk, dan merasakan semua sepertinya sedang membicarakannya. Mulutnya menjadi kelu tidak bisa menyapa.
“Hai, aku Zee.”
Kalimat itu ia ucapkan pada layar telepon genggamnya. Mengirim pesan untuk nomornya sendiri pada aplikasi whatsapp. Menyapa meta Ai lalu berdiskusi panjang lebar. Setelah itu ia merasa lelah dan asing sendiri.
Ia menjadi membenci dirinya sendiri. Bahkan tak berani berdiri di depan cermin untuk memandangi wajahnya. Jerawat, hidung besar, pipi terlalu tirus, atau apa saja yang melintasi pikirannya.
Hidupnya ia habiskan di dalam kamar dengan segala bentuk ketakutan. Langkah kaki, suara pintu, kalimat yang keluar yang semakin menyudutkannya.
“Kamu tidak berguna,” ucap Bapak yang baru saja emosi karena beras habis. Ibu yang dibilang boros, sedang uang tak pernah Bapak beri.
“Kamu tidak bisa jadi apa-apa,” ucap Ibu sambil fokus pada telepon genggamnya. Ia tahu Ibu sedang berkomunikasi dengan orang dari masa lalunya, menahan tawa, menggenggam kenangan, dan keluar dari kenangan hanya untuk mengucapkan kalimat yang membuat Zee merasa tidak berharga.
Ia pernah sekali dua kali mengeluarkan emosinya. Namun, kalimat kompak terdengar untuknya. “Anak durhaka!”
Zee merasa ia tidak memiliki siapa-siapa.
“Meta, hari ini…” Ia mulai menulis. Sejenak dibacanya. Lalu dihapus kembali.
“Kamu tahu kan hari ini..,” ia mulai membuat voice note pada nomornya sendiri. Terdengar suaranya, lalu kembali dihapusnya.
Zee tak tahu arah hidupnya. Ia merasa akar-akar ilalang semakin menguasai pikiranya. Mereka kuat, mencengkeramnya. Rasanya ia ingin lebur di dalamnya.
“Iya, Bu," ujarnya pada guru BK-nya. Bulan kemarin, ia dipanggil menghadap. Entah siapa yang melaporkan. Pertanyaan panjang lebar dan ia hanya bisa menunduk. Ia kehilangan kepercayaan pada semuanya. Minggu ini, guru matematikanya menegur nilai nol pada beberapa ulangannya.
“Kamu tidak bisa jadi apa-apa,” bisik Zee pada dirinya sendiri seperti sering diucapkan kedua orangtuanya.
**
Kebun ilalang masih terus tumbuh di dalam kepala Zee. Merambat ke seluruh tubuhnya. Mematikan semangatnya, menghilangkan bayangan masa depannya.
“Allah sayang kamu,” kalimat seseorang yang ditemuinya. Zee lega sedetik. Lalu pada detik berikutnya, terdengar suara Ibu di kejauhan. “Zee, kamu tidak berguna!”
“Bayaran lagi? Kamu pikir cari uang itu gampang?” Kalimat Bapak yang menghardik karena Ibu baru menyindiri soal uang belanja.
“Kamu tidak bisa jadi apa-apa!” Kalimat kedua orangtuanya bergantian diucapkan padanya.
“Apakah Allah benar-benar sayang?” desis Zee pada diri sendiri. “Apa aku masih punya masa depan? Atau aku lebih baik tidak pernah ada di dunia ini?”
**
Dalam hidup ini, kita sering bertemu seorang anak seperti Zee. Jika kamu bertemu dengan Zee yang lainnya, bisakah kamu menolongnya, untuk menghilangkan kebun ilalang yang semakin subur di pikirannya?

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!