Bukan siapa yang paling menang, tapi siapa yang bisa membuat Allah senang.
Suara derasnya hujan pagi ini bersamaan dengan bunyi keras dari telepon milik Laela. Nomor yang sangat dikenalnya terlihat menghubungi. Namun, ketika tangannya akan bergerak untuk menjawab, terdengar tangisan anak pertamanya yang terpeleset karena air minum yang dibawanya tumpah. Laela sekadar melirik telepon genggamnya. Paginya sangat sibuk.
“Bunda,” suara tangis anaknya semakin keras, duduk dengan tangan menggapai-gapai seolah minta pertolongan. Sementara telepon masih terus berbunyi.
“Jangan pikirkan telepon dulu,” suara suaminya mengiringi suara air hujan yang tumpah di atas genteng alumunium teras mereka.
Suara telepon masih terus berbunyi, tapi Laela sudah tidak memikirkannya lagi. Ia sibuk dengan segala tetek bengek pagi dan kesibukan sebagai ibu dengan dua anak balita.
“Ibu baru saja menggambar perahu.”
Siangnya Laela mendapati pesan masuk, setelah suaminya berangkat ke kantor dan dua anaknya tidur pulas setelah dibacakan dua buku cerita.
“Perahu lagi?” tanya Laela. "Tidak mau menggambar yang lain? Cucu Ibu misalnya?"
Baru sedetik jawaban itu terkirim, video call mulai berbunyi. Laela cepat menjawabnya.
“Ibu bikin perahu lebih bagus dari kemarin.”
Sebuah lukisan perahu ditunjukkan pada Laela. Wajah sumringah Ibu terlihat. Sebuah perahu tanpa nakhoda, berlayar sendirian di lautan lepas. Laela menarik napas panjang. Sepertinya, lukisan itu menggambarkan perasaan Ibu yang kesepian. Laela dan kakaknya tinggal berbeda pulau dengan Ibu. Mereka tidak bisa setiap saat pulang menengok Ibu.
“Minggu lalu Ibu juga melukis perahu, kenapa sekarang melukis perahu lagi?” tanya Laela pelan.
Sudah dua tahun lebih Ibu punya kebiasaan baru setelah Bapak berpulang. Ibu kembali menekuni hobi lamanya dengan kuas dan cat. Namun, hasil yang dilukis selalu sama. Perahu dan perahu.
Tidak ada jawaban dari mulut Ibu. Hanya terlihat Ibu menjauhkan telepon genggamnya dari kanvas berisi lukisan perahu. Suara anak Laela terkecil terdengar memanggilnya. “Maaf, Buuu,” Laela terpaksa mematikan teleponnya.
**
Mereka hanya dua bersaudara. Laela harus menghubungi kakak lelakinya.
“Ibu melukis perahu, Kak,” Laela menghubungi kakak laki-lakinya. “Lagi dan lagi. Entah sudah berapa banyak lukisan perahu yang Ibu buat. Berbeda sudut pandang, tapi tetap perahu. Kakak bisa pulang untuk Ibu? Sudah dua lebaran Kakak tidak pulang. Ibu kesepian.”
Hening.
“Kak…,” Laela memanggil.
“Aku baru merintis usaha di sini, Dik. Istriku sedang hamil anak kedua. Kami harus hati-hati dengan pengeluaran kami. Aku laki-laki harus bertanggung jawab dengan anak orang yang kubawa.”
Tidak ada percakapan lagi. Ada ruang getir di hatinya. Seperti inikah yang ia rasakan nanti ketika menua? Anak-anak yang berjauhan, suami yang tidak ada di sampingnya lagi?
Laela terdiam, tapi suara batuk di belakangnya membuat ia cepat menghapus air matanya yang siap tumpah. Suaminya diam-diam mendengarkan percakapan mereka.
“Aku mengajukan cuti pekan ini. Sebulan ini, kamu terlihat bingung dan tidak bahagia. Kita pulang menengok ibumu. Kalau bisa, kita bawa Ibu untuk tinggal bersama kita.”
Laela terkejut.
“Mau menunggu sampai ratusan perahu yang ibumu lukis dan kedua anaknya tidak paham beliau kesepian? Kita pulang untuk menyenangkan ibumu dan membuat Allah senang.”
**
Rujukan:
Empty nest syndrome merupakan istilah untuk menggambar perasaan sedih atau hampa yang dialami orangtua saat anak-anaknya mulai dewasa dan meninggalkan rumah. Kondisi ini umumnya dialami oleh ibu.
https://www.alodokter.com/empty-nest-syndrome-perasaan-hampa-saat-anak-meninggalkan-rumah

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!