Haji, Episodic Memory Setiap Muslim di bulan Dzulhijjah

Haji, Episodic Memory Setiap Muslim di bulan Dzulhijjah

Ran. A. Puspi.3 min read
0 komentar

Rana dan Arka rindu pada Baitullah, tapi mereka belum pernah ke sana. Mengapa hati seorang muslim begitu tergetar ketika mengingat Baitullah?

Malam ini bulan baru muncul, kalender Islam di kamar kecil Rana dan Arka menunjukkan tanggal 1 Dzulhijjah. Dzulhijjah yang merupakan salah satu dari bulan haram dalam Islam. Bulan di mana kebaikan dilipatgandakan, begitu pula dengan segala kemaksiatan dosa pun akan dipilatgandakan. Namun, bulan yang satu ini amat berbeda dan istimewa, karena terdapat banyak keutamaan ibadah yang dapat dilakukan seorang muslim, dari mulai shaum Arafah, berkurban sampai berhaji ke Baitullah.

Di keheningan malam itu Rana terbangun, seketika ia bangun lalu menoreh ke arah suaminya. Suaminya ikut terbangun, mereka berwudhu dan bermunajat. Selesai Qiyyamul Lail, fokus mereka tertuju pada kotak kecil berbentuk miniatur Ka’bah masih tersimpan rapi diujung meja. Isinya berupa lembaran rupiah yang sebagian mereka tabung dari gaji keduanya, sudah bertahun-tahun lamanya. Keinginan pasangan itu sama besarnya untuk mendaftar haji. Namun, terasa janggal ketika mereka teringat mimpi mereka lainnya, yaitu tempat tinggal yang lebih dari kontrakan saat ini.

Percakapan ringan di ruang tamu setelah shalat Subuh akhir pekan kali ini terasa berbeda. Televisi mereka terhubung dengan Youtube untuk menyetel saluran Makkah live HD. Lantunan ayat suci dengan background Ka’bah yang berbalut kain putih kali ini mengingatkan mereka pada satu impian untuk mendaftar haji di usia yang tidak cukup muda lagi.

“Mas, uang tabungan kita kalau digabung dengan tabungan yang ada di rekening sepertinya sudah cukup untuk mendaftar haji reguler berdua. Bagaimana pendapat mas?”

“Alhamdulillah, Dek. Tapi bagaimana dengan kebutuhan rumah sendiri? Karena jika nanti Allah izinkan kita punya keturunan, rumah ini nampak tidak memadai lagi.”

Seketika raut wajah keduanya nampak gelisah. Rana yang sering tiba-tiba merasakan getaran kerinduan mendalam dengan Baitullah, walaupun dia hanya sering melihat di Youtube atau ketika melihat feeds media sosial-nya penuh dengan cerita manis orang-orang yang sudah terlebih dahulu diundang kesana. Arka suaminya, tidak jauh berbeda. Hatinya sering dilanda gelisah, karena ingat dan paham akan kewajiban haji bagi seorang muslim jika mampu dan antara keinginan seorang kepala keluarga untuk memiliki tempat tinggal sesuai kemampuan.

Sunyi dan seketika mereka menitikkan air mata bersamaan dengan lantunan ayat suci yang terdengar begitu syahdu. Suatu bentuk episodic memory yang manis, yang entah kenapa bagi Rana dan Arka suasana di Baitullah selalu terngiang-ngiang, walaupun mereka belum pernah menginjakkan kaki di tempat suci itu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mengapa hati seorang begitu tergetar ketika melihat Ka’bah atau ketika mendengar lantunan kalimah talbiyah, Labbaik Allahumma Labbaik?

Dari artikel Psikologi UII tertulis, seorang pemikir Muslim Ibn Miskāwaih, berpendapat bahwa individu yang ideal adalah mereka yang tidak menganggap hidup hanya untuk mengejar kesenangan fisik, karena itu bukanlah inti dari kebahagiaan yang hakiki (Rozi, 2022).

Rindu yang kita alami bukan hanya sekadar keinginan untuk kembali ke masa lalu atau bukan suatu bentuk episodic memory biasa atau pengalaman manis semata, tetapi merupakan sebuah jejak jiwa yang mendorong kita untuk melihat kembali kepada “asal”-nya. Allah memuliakan Ka'bah dan menjadikannya tempat yang selalu dirindukan manusia.

Seorang muslim yang sangat merindukan Baitullah, seakan-akan hati, jasad dan jiwa nya dekat dengan Baitullah merupakan bentuk pengabulan doa dari nabi kita Nabi Ibrahim AS. Doa Nabi Ibrahim AS tertuang dalam Al Qur’an, QS Ibrahim ayat 37: “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Semoga banyak Rana dan Arka yang begitu merindukan pergi haji dan Allah segera undang untuk menapakkan hati, jasad dan jiwa-nya langsung di padang Arofah. Sehingga menjadi suatu episodic memory yang nyata terkabul menjadi suatu kenangan hidup yang abadi.

Referensi:

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!