Belajar dari Badai Orang Lain

Belajar dari Badai Orang Lain

Nurhayati Pujiastuti3 min read
0 komentar

Badai masalah tiba-tiba datang pada kita. Apa yang seharusnya kita lakukan?

Bagaimana rasanya diserang badai?  Bayangkan, kita ada di atas perahu di atas lautan. Lalu, ada angin kencang menghantam, tubuh kita terguncang. Pada titik itu, tidak tahu bagaimana cara mengendalikan. Pada titik itu juga kita  merasa, bahwa kita adalah orang yang paling menderita sedunia.

            Badai namanya. Dalam kamus Bahasa Indonesia, badai diartikan angin kencang yang menyertai cuaca buruk.  Angin  kencang itu menakutkan. Ia seperti musuh tentu saja. Rasanya, ia datang hanya untuk menghancurkan. 

            Badai sering dianalogikan sebagai suatu masalah. Ketika masalah datang, kita merasa seperti sedang diserang badai. Lalu, kita merasa yang paling menderita. Padahal, siapa orang di dunia ini yang tidak diberi masalah?

            Ada yang masalahnya dengan orang tua, kerabat, pasangan, bahkan anak. Ada yang diuji dengan ekonomi, penyakit, dan banyak ujian lainnya. Terkadang satu orang bisa menghadapi banyak ujian. Ujian sakit dan ujian ekonomi secara bersamaan. Ujian dikhianati pasangan dan di PHK.

            Setiap masalah yang menghampiri kita, akan selalu berada pada posisi merasa tertekan. Merasa badai itu menghantam terlalu keras. Kita tidak kuat. Lalu muncul pertanyaannya, kenapa bukan orang lain yang menghadapi ini? Padahal, bisa jadi di lautan yang sama, ada perahu lain yang sudah hancur berantakan karena serangan badai. Namun, kita tidak melihatnya karena kita fokus pada diri sendiri.

            Iya, fokus pada diri sendiri. Tentu saja baik, jika sebagai sarana introspeksi. Namun, jika fokus itu membuat pikiran kita tidak berkembang, merasa hidup tidak berguna, cobalah untuk membuka cakrawala berpikir kita. Caranya, dengan membandingkan badai yang menghantam kita, dengan badai yang dialami orang lain. Jika tidak bisa mendapatkan di dunia nyata, karena orang lain biasanya sungkan untuk berbagi masalah, maka gunakan sosial media untuk hal tersebut. Ada banyak cerita tentang badai, yang bisa kita ambil manfaatnya di sana. Bagaimana mereka berjuang, bertahan, hingga akhirnya badai itu bisa berlalu.

            Badai masalah bisa menjadi besar, ketika kita tidak belajar membandingkan dengan masalah yang dihadapi oleh orang lain. Self immersed adalah fokus pada diri sendiri, ketika sedang mendapatkan masalah. Individu dengan perspektif ini, akan melihat masalah dengan perspektif dirinya sendiri. Biasanya, mereka justru akan sulit menghadapi masalah tersebut, karena mereka terperangkap dengan banyak ketakutan dengan kemungkinan terburuk.

            Membandingkan masalah kita dengan orang lain, sering membuat kita tersadar, bahwa masalah yang kita hadapi kecil. Itulah kenapa di dalam Al-Quran, Allah ceritakan tentang para Nabi dan Rasul dengan segala  masalahnya, dan bagaimana mereka menyelesaikannya. Bukan dalam hitungan hari, tapi bisa dalam hitungan puluhan tahun, masalah itu bisa selesai.

Membandingkan masalah kita dengan orang lain, akan membuat kita merasa bersyukur. Ternyata badai yang kita lewati hanya sebentar. Kita sudah selesai melewatinya, tapi orang lain masih berjuang di dalamnya.

            Allah berikan ujian masalah bukan karena tidak sayang, justru itu sebagai tanda sayang Allah pada hamba-NYA. Para Nabi dan Rasul, semua mendapat masalah.  Allah sudah menyediakan jawaban dari masalah itu di dalam Al-Quran.  Dr Ali Sodiqin, dalam tulisannya dengan judul Manjemen Masalah Perspektif Al-Quran menyebutkan, bahwa Al-Quran sudah menyebutkan cara kita untuk mengubah sudut pandang tentang masalah:

1.     Masalah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah seperti disebutkan dalam QS Muhammad ayat 31.

2.     Masalah adalah media untuk peningkatan derajat kita, sesuai kadar usaha dan perjuangan kita. Hal ini disebutkan dalam QS Al Insyiqaq ayat 6.

3.     Allah menyediakan jalan keluar dari suatu masalah, caranya dengan sabar dan shalat. Hal ini disebutkan dalam QS Al Baqarah ayat 45.

4.     Adanya kesulitan pasti diikuti dengan kemudahan, terdapat pada QS Al Insyirah pada ayat 5 dan 6.

 

Jika saat ini, kamu masih dilingkari kecemasan karena merasa dihantam badai paling besar, jangan khawatir. Badaimu pasti akan berlalu.

             

Rujukan:

 

  • AlQuran

 

0 komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!